Dugaan Kutipan Rp20–30 Juta Dana BOK Madina, Ade Batubara Desak Pemeriksaan Menyeluruh

Madina, (SUMUT)— Tokoh pemuda dan aktivis Sumatera Utara, Misron Saidi Batubara alias Ade Batubara, mendesak Kapolda Sumatera Utara memeriksa mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terkait dugaan kutipan sebesar Rp20 juta hingga Rp30 juta dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Tahun Anggaran 2025 yang disebut mencapai sekitar Rp5,1 miliar.

Ade meminta aparat penegak hukum menelusuri aliran dana, mekanisme pencairan, serta pertanggungjawaban penggunaan anggaran tersebut, termasuk memeriksa pejabat terkait, bendahara, pengelola program, dan kepala puskesmas yang berkaitan.

“Kapolda Sumut harus menindaklanjuti informasi ini secara profesional dan transparan. Jika benar terdapat kutipan atau pemotongan dana, harus ditelusuri siapa yang bertanggung jawab, berapa nilainya, dan atas dasar apa hal itu dilakukan,” tegas Ade.

Ia menekankan bahwa dugaan tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan dokumen, keterangan saksi, serta pencocokan laporan pertanggungjawaban dengan realisasi kegiatan di lapangan.

Ade juga meminta agar pemeriksaan dilakukan tanpa tebang pilih. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan anggaran kesehatan digunakan sesuai peruntukannya dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami tidak menghakimi siapa pun. Kami mendesak agar dugaan ini diperiksa secara menyeluruh. Jika tidak ditemukan pelanggaran, sampaikan hasilnya secara terbuka. Namun, jika ditemukan bukti penyimpangan, proses sesuai hukum yang berlaku,” pungkas Ade Batubara. (*)

Haris Rusly Moti: Semangat Pasal 33 UUD 1945 Menjadi Jiwa Pembangunan Ekonomi Prabowo-Gibran

Jakarta – DPP Postidar 98 Resolution Network, Sabtu (3/10/2026), menggelar kegiatan pemberian bingkisan kepada warga di Kota Tangerang dengan mengusung tema “2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Berbagi untuk Menjaga Kebersamaan.”

Acara tersebut dihadiri sejumlah pengurus DPP Postidar, antara lain Haris Rusly Moti, Ahmad Kailani, Turman P. Simanjuntak, Sulaiman Haikal, dan Agus Teddy Sumantri.

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk syukuran atas dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan berdirinya organisasi Profesi Profesional Terpadu Indonesia Raya, yang disingkat Postidar 98 Resolution Network.

Postidar didirikan dengan tujuan mengisi momentum pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan cukup tinggi. Karena itu, kehadiran Postidar diharapkan ikut mendorong lahirnya kaum profesional baru yang dibutuhkan untuk mengambil peran dalam pembangunan sekaligus mempercepat proses pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai bagian dari komitmen sosial dan bentuk rasa syukur atas dua tahun perjalanan kepemimpinan nasional, Postidar menggelar aksi kepedulian dengan membagikan paket sembako dan kebutuhan pokok kepada warga di Kota Tangerang.

Melalui kegiatan berbagi tersebut, Postidar ingin hadir secara langsung menyapa masyarakat, sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, pengurus Postidar juga mengajak seluruh elemen masyarakat Kota Tangerang dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan. Postidar juga mengajak masyarakat memberikan dukungan serta doa agar seluruh program kerja dan kebijakan strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat berjalan dengan baik, lancar, dan tepat sasaran demi terwujudnya kesejahteraan rakyat secara merata.

Menurut Ketua Dewan Penasihat DPP Postidar, Haris Rusly Moti, desain kebijakan yang tengah dijalankan Presiden Prabowo berfokus pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Semua potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia didorong agar kehidupan rakyat menjadi lebih sejahtera. Jika kita cermati, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hilirisasi, efisiensi BUMN, hingga pemberantasan korupsi tidak lain bertujuan untuk kemakmuran rakyat. Semangat Pasal 33 UUD 1945 menjadi ‘jiwa’ bagi pembangunan ekonomi Prabowo-Gibran,” jelas pria yang akrab disapa Moti tersebut.

Sementara itu, Turman P. Simanjuntak menjelaskan bahwa pemberian bingkisan kepada warga merupakan bentuk rasa syukur Postidar atas perkembangan ekonomi yang berlangsung selama pemerintahan Presiden Prabowo.

“Pemberian ini merupakan simbol bahwa pertumbuhan ekonomi harus dirasakan secara merata dan diratakan oleh kita semua,” ujar Turman.

Pada bagian lain, Sulaiman Haikal menilai pertumbuhan ekonomi harus diiringi dengan tumbuhnya kaum profesional.

“Kaum profesional inilah yang akan mengisi ruang-ruang pertumbuhan dengan keahlian dan sekaligus jaringan yang dimiliki. Tentu, jaringan yang harus dibangun kaum profesional tidak hanya domestik, tetapi juga regional dan internasional,” ungkap Haikal.

Agus Teddy Sumantri menjelaskan bahwa langkah Presiden Prabowo dalam mendorong kesejahteraan rakyat memiliki perspektif pembangunan yang berlandaskan semangat Pasal 33 UUD 1945.

“Prabowo menyatukan semua kekuatan dengan merangkulnya, mengajak semuanya bersama-sama membangun dan bekerja. Tidak melihat dari warna ideologi dan politiknya. Bagi Prabowo, profesionalisme adalah basisnya. Jadi, Postidar berdiri untuk mengejawantahkan pertumbuhan ekonomi berbasis persatuan nasional dan profesionalisme,” jelas Teddy.

Terkait dengan pembangunan jaringan profesional, Ahmad Kailani menilai kehadiran organisasi seperti Postidar penting untuk memperkuat peran sumber daya manusia dalam pembangunan nasional.

“Tujuan kami mendirikan Postidar tidak lain adalah membangun visi bagaimana Indonesia yang lebih sejahtera tidak hanya memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia melalui skill yang dimiliki. Menyatukan visi dan aksi inilah yang hendak disatupadukan oleh Postidar,” tegas Ahmad Kailani. (red)

Membongkar Gurita Pokir Rp1 Triliun dan Peran Ketua DPRA

(Foto: istimewa)

 

JAKARTA — Rifqi menilai pengelolaan APBA, termasuk program yang berkaitan dengan Pokir, perlu ditempatkan dalam prinsip transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurutnya, evaluasi terhadap efektivitas belanja daerah penting dilakukan untuk memastikan setiap rupiah anggaran memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.

Kemiskinan dan Efektivitas Belanja

GAANAS juga mempertanyakan sejauh mana belanja pemerintah daerah mampu menjawab persoalan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di Aceh.

Rifqi mengatakan persoalan utama bukan hanya terletak pada besarnya anggaran, tetapi juga kualitas perencanaan, ketepatan sasaran, mekanisme pengawasan, serta dampak nyata program terhadap masyarakat.

“Ketika anggaran besar tetapi kemiskinan, ketimpangan, dan persoalan ekonomi masyarakat masih menjadi masalah serius, maka yang harus diperiksa adalah efektivitas kebijakan dan tata kelola anggarannya,” katanya.

Pengawasan Anggaran Bukan Persoalan Politik

GAANAS mengingatkan agar kritik terhadap pengelolaan APBA tidak dipandang sebagai persoalan identitas, kedaerahan, ataupun kepentingan politik.

Menurut Rifqi, transparansi dan pengawasan terhadap penggunaan uang negara merupakan bagian dari mekanisme kontrol publik.

“Pengawasan terhadap uang negara tidak boleh diposisikan sebagai serangan terhadap Aceh. Justru transparansi anggaran adalah bagian dari upaya menjaga kepentingan Aceh dan masyarakat Aceh,” tegas Rifqi.

Empat Tuntutan GAANAS

Atas persoalan tersebut, GAANAS menyampaikan empat tuntutan.

Pertama, kepada KPK, Kejaksaan Agung, dan Bareskrim Polri, GAANAS meminta penelusuran dan pemeriksaan terhadap alokasi serta realisasi Pokir DPRA yang disebut mencapai sekitar Rp1 triliun, termasuk apabila ditemukan indikasi pengaturan proyek, konflik kepentingan, atau transaksi yang melanggar hukum.

Kedua, kepada Kementerian Dalam Negeri, GAANAS meminta pengawasan terhadap kesesuaian program Pokir dengan RKPD, prioritas pembangunan, serta ketentuan perencanaan dan penganggaran daerah.

Ketiga, kepada BPK RI, GAANAS mendorong pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) apabila terdapat dasar yang cukup untuk menilai aspek efektivitas dan kepatuhan dalam pengalokasian serta pelaksanaan anggaran.

Keempat, kepada Pemerintah Aceh dan DPRA, GAANAS meminta informasi mengenai perencanaan, lokasi, nilai anggaran, pelaksana, dan realisasi program Pokir dibuka kepada publik secara transparan.

GAANAS menegaskan bahwa desakan tersebut bukan merupakan vonis terhadap pihak tertentu. Menurut organisasi itu, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran atau tidak.

“Kalau semuanya sesuai aturan, transparansi dan audit akan membuktikannya. Tetapi kalau ada penyimpangan, aparat penegak hukum harus berani menindak tanpa melihat jabatan dan kekuatan politik,” tutup Rifqi. (Red)

 

 

Dukung Astacita Poin 3 dan 6 Doni Hendra Finalkan Program Buka 10.000 Lapangan Pekerjaan di Tanah Datar

Foto: Pengusaha Garment & Konveksi, Doni Hendra (kiri), bersama jajaran pendamping dan perwakilan masyarakat saat memperkuat sinergi serta membangun kepercayaan dengan calon investor di Jakarta. Doni Hendra menargetkan pembukaan 10.000 lapangan pekerjaan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, melalui pengembangan industri konveksi dan garment. (Dok.istimewa)

Jakarta – Pengusaha Garment dan Konveksi Doni Hendra mendorong terbangunnya sinergitas antara dunia usaha, masyarakat, dan berbagai pihak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Melalui pengembangan sektor konveksi dan garment melalui PT ASIACO BATAM INDONESIA, Doni Hendra berharap dapat membuka peluang kerja hingga 10.000 orang secara bertahap di 75 Desa di wilayah Kabupaten Tanah Datar.

Menurutnya, potensi sumber daya manusia di daerah perlu didukung dengan keterampilan, pelatihan, serta akses terhadap kesempatan kerja yang berkelanjutan. Dihubungi melalui selular ia menjelaskan
“harapannya kita tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga membangun keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat, ini membutuhkan sinergi dan gotong royong dari berbagai pihak, maka dari itu saya berupaya membangun kepercayaan dengan calon calon investor di Jakarta” ujar Doni.

Selain mendukung AstaCita Prabowo Gibran point 3 dan 6, program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, peningkatan keterampilan, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Doni menegaskan bahwa target 10.000 lapangan pekerjaan merupakan sebuah harapan besar yang membutuhkan proses, perencanaan, dan kolaborasi bersama agar dapat diwujudkan secara bertahap.
“kita ingin tumbuh bersama masyarakat Tanah Datar, dari keterampilan, lahir pekerjaan, dari pekerjaan, tumbuh ekonomi keluarga,” ucapnya seraya menutup pembicaraan.(Bar.S)

 

26 Capaian Terukur Kapolri Listyo Sigit Prabowo di Masa Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto

R. HAIDAR ALWI, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

 

Jakarta, (28 September 2026) — Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melanjutkan kepemimpinan Polri di bawah Presiden Prabowo dengan capaian yang dapat diperiksa lewat data penindakan, realisasi program, produk hukum, dan survei independen. Bukti paling kuat terlihat pada pemberantasan narkoba dan judi online, dukungan ketahanan pangan, pembangunan jembatan desa, penanganan bencana, perlindungan pekerja, pengesahan UU Polri yang baru, dan kenaikan kepercayaan publik.

Berikut inventaris berdasarkan sumber yang tersedia sampai 28 September 2026, dari masa pemerintahan sejak 20 Oktober 2024.

A. Narkoba, Judi Online, Penyelundupan, dan Terorisme

1. Desk khusus dibentuk sejak awal pemerintahan. Desk pemberantasan narkoba dan judi online dibentuk sejak 4 November 2024. Hingga 11 Desember 2024, desk narkoba mengungkap 3.608 kasus dengan 3.965 tersangka dan barang bukti Rp2,88 triliun. Arahan Presiden dijawab dengan struktur kerja dalam hitungan pekan.
2. Penindakan narkoba berskala besar (posisi 1 Juli 2026). Sepanjang Januari–Juni 2026 Polri mengungkap 24.837 perkara dengan 32.792 tersangka. Barang buktinya 3,1 ton sabu, 4,1 ton ganja, 763 ribu ekstasi, dan 59,2 juta obat keras, senilai Rp10,4 triliun. Pembaruan September: Bareskrim menyita 47,5 kilogram sabu asal Malaysia senilai sekitar Rp132,7 miliar di perairan Rokan Hilir, menangkap dua kurir dengan 21,2 kilogram sabu dan 25.607 ekstasi senilai Rp70,25 miliar di Pekanbaru, dan dalam tiga pengungkapan di Riau menyita lebih dari 97 kilogram sabu. Ini capaian penindakan, belum otomatis berarti peredaran menurun.
3. Pendekatan pembinaan mengikuti penindakan. Polri mentransformasi 148 kampung narkoba menjadi kampung bebas narkoba (posisi 1 Juli 2026).
4. Klaim “89 juta jiwa terselamatkan”. Kapolri menyatakan pengungkapan tersebut menyelamatkan 89 juta jiwa dari bahaya narkoba. Ini estimasi yang dihitung dari barang bukti, bukan jumlah individu yang terverifikasi.
5. Judi online dibongkar dan diblokir. Menurut pidato Kapolri pada 1 Juli 2026, Polri mengungkap 718 kasus judi online dengan 1.164 tersangka, menyita barang bukti Rp1,75 triliun, dan memblokir 278 ribu situs atau konten bersama Komdigi. Polri juga mengaktifkan kembali Satgas Anti-Mafia Bola selama Piala Dunia 2026, bekerja sama dengan Komdigi dan PPATK. Pembaruan 3 September 2026: Bareskrim mengungkap tiga perkara baru, termasuk d46y jaringan 1xbet, ij8keren, dan empire88 dengan transaksi sekitar Rp1,03 triliun lewat satu penyedia pembayaran dan Rp51,99 miliar dana dibekukan. Di luar kepolisian, Komdigi mencatat 3.981.834 pemutusan akses sejak 20 Oktober 2024.
6. Sindikat judi online internasional di Hayam Wuruk terbongkar. Jaringan ini melibatkan 322 WNA yang mengelola 145 domain. Bareskrim menetapkan 287 WNA dan empat WNI sebagai tersangka.
7. Kebocoran penerimaan negara ditekan (posisi 1 Juli 2026). Satgas Optimalisasi Penerimaan Negara bersama Ditjen Pajak dan Bea Cukai menggagalkan ekspor ilegal 87 kontainer fatty matter dan POME. Satgas Gakkum Penyelundupan mengungkap 47 perkara dengan 24 tersangka, termasuk penyelundupan 28 ton timah ke Malaysia. Kapolri juga melaporkan penyelamatan Rp756 miliar dari 464 kasus migas sepanjang 2026.
8. Nihil serangan teror sejak 2023. Polri mempertahankan status zero terrorist attack sejak 2023 lewat pendekatan lunak dan keras, serta memberi penanganan khusus kepada 137 anak terpapar radikalisme dan 130 anak terpapar kekerasan. Presiden Prabowo menyebut nol insiden terorisme sebagai prestasi yang perlu dihargai.

B. Ketahanan Pangan dan Gizi

9. Panen jagung 5,7 juta ton. Polri mencatat panen raya jagung 5,7 juta ton sejak 2025 hingga kuartal II 2026 (posisi 1 Juli 2026), dengan potensi lahan 1,37 juta hektare bersama Kementan dan 30.548 kelompok tani binaan. Program berlanjut pada kuartal III: pada September 2026 Polda Jatim memanen 20 hektare jagung varietas Bhayangkara di Banyuwangi dengan estimasi produktivitas 8–10 ton per hektare.
10. Panen serentak kuartal II 2026. Panen dilakukan di lahan 189.760 hektare dengan potensi hasil sekitar 1,23 juta ton. Angka ini “potensi”, belum realisasi tercatat. Sebagai contoh realisasi daerah, Polres Indramayu melaporkan hasil 437,226 ton dari lahan 64,5 hektare sepanjang Januari–September 2026.
11. Komoditas lain ikut dikembangkan. Polri memfasilitasi petani Sembalun, Lombok Timur, mengembangkan bawang putih di lahan 948 hektare dengan hasil 18.960 ton.
12. Gudang ketahanan pangan dibangun. Pada 16 Mei 2026 dilakukan groundbreaking 10 gudang ketahanan pangan Polri. Dalam pidato HUT Bhayangkara, Kapolri menyebut Polri membangun 29 gudang ketahanan pangan.
13. Dapur Makan Bergizi Gratis Polri (posisi Juni 2026). Hingga Juni 2026, 1.415 SPPG telah dibangun: 828 beroperasi, 227 memasuki tahap operasional, dan 360 masih dibangun, dengan target 1.500 pada akhir 2026. Presiden memimpin peluncuran operasional 166 SPPG Polri. Belum ada pembaruan angka nasional yang dipublikasikan setelah Juni.
14. Rantai pasok pangan melibatkan UMKM. Polri membangun ekosistem rantai pasok yang melibatkan 12.420 UMKM, kelompok tani, peternak, nelayan, dan koperasi, dengan fasilitas seperti greenhouse, kolam ikan bioflok, budidaya sapi, kambing, ayam, dan gudang sentral. Dapur SPPG Polri dilengkapi filter air, RO, UV, steamer, dan test kit, dan Kapolri menyatakan SPPG Polri mempertahankan zero accident (pernyataan pidato 1 Juli 2026).

C. Infrastruktur, Bencana, dan Kehadiran di Desa

15. Jembatan Merah Putih Presisi (posisi 13 Agustus 2026). Polri membangun dan merevitalisasi 895 jembatan swadaya di 30 Polda. Sebanyak 874 sudah selesai, 17 masih dibangun, dan empat masih direncanakan. Yang rampung panjang totalnya 19,2 kilometer, menghubungkan 1.314 desa, dan bermanfaat bagi 2 juta orang. Ini lompatan dari posisi 1 Juli 2026, ketika 711 dari 775 jembatan telah selesai.
16. Pemulihan infrastruktur di wilayah bencana Sumatera. Polri membangun 47 jembatan, termasuk enam jembatan Bailey, serta 351 sumur bor dan 300 unit hunian tetap (posisi 1 Juli 2026). Polri ikut terlibat bersama BNPB dan Kementerian PKP dalam pembangunan huntap korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
17. Operasi kemanusiaan bencana Sumatera. Polri mengerahkan 4.106 personel untuk mendistribusikan logistik, mengoperasikan ratusan alat berat, dan memberi layanan kesehatan bagi puluhan ribu korban. Personel juga mencari korban dengan anjing pelacak K9 serta mengevakuasi dan mengidentifikasi 1.146 jenazah.

D. Pelayanan dan Keselamatan Publik

18. Operasi Ketupat 2026. Kapolri melaporkan kecelakaan turun 5,3 persen dan fatalitas turun 30,4 persen. Sebanyak 85,3 persen pemudik menyatakan puas, dan perputaran uang selama mudik mencapai Rp161,8 triliun.

E. Perlindungan Pekerja, Perempuan, dan Anak

19. Desk Ketenagakerjaan membantu ribuan buruh (posisi Agustus 2026). Sejak 2025 hingga Agustus 2026, Desk Ketenagakerjaan Polri memfasilitasi 4.236 pekerja terdampak PHK untuk kembali bekerja dan menangani 358 perkara ketenagakerjaan. Kapolri menyampaikan capaian ini pada 14 September 2026 di Sukabumi. Ia juga menyatakan Polri memperoleh penghargaan dari International Trade Union Confederation, dan kalangan buruh mendorong agar desk ini masuk dalam revisi RUU Ketenagakerjaan.
20. Direktorat PPA-PPO diperluas. Pada 21 Januari 2026 Kapolri meluncurkan Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang di 11 Polda dan 22 Polres. Direktorat ini sebagian besar diawaki polisi wanita agar penanganan lebih responsif bagi korban, dan menangani kasus besar seperti dugaan kekerasan terhadap 110 anak di sebuah daycare dengan 13 tersangka.

F. Kepercayaan Publik dan Akuntabilitas

21. Kepercayaan publik pulih dan naik. Litbang Kompas mencatat kepercayaan publik 76,2 persen pada Oktober 2025, pulih setelah menurun pasca-kerusuhan Agustus 2025. Pada survei 9–18 April 2026 (1.200 responden tatap muka di 38 provinsi, margin of error 2,83 persen), angkanya naik ke 82,4 persen, dan citra positif naik dari 64,4 ke 71,5 persen.
22. Kualitas layanan membaik. Kepuasan terhadap layanan naik dari 65,3 ke 67,6 persen. Skor profesionalitas naik dari 7,76 ke 8,37, dan 80,6 persen responden menilai kinerja Polri makin baik.
23. Kepercayaan tertinggi di antara lembaga penegak hukum. Litbang Kompas menyebut tingkat kepercayaan terhadap Polri melampaui Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, dan KPK.
24. Sanksi terhadap oknum diketahui publik. Sebanyak 94,3 persen responden mengetahui sanksi tegas atas penembakan tanpa prosedur, 88,6 persen untuk kasus kekerasan, dan 80,3 persen untuk penyelundupan narkoba.
25. Reformasi berbuah UU Polri yang baru. Presiden melantik Komisi Percepatan Reformasi Polri pada 7 November 2025 dan menerima laporannya pada 5 Mei 2026, dan Kapolri menyatakan segera menindaklanjuti. Pada 9 Juni 2026 rapat paripurna DPR menyetujui perubahan ketiga UU Kepolisian dengan delapan substansi reformasi, antara lain penguatan pengawasan dan keterbukaan, jaminan netralitas dan profesionalitas, pengaturan penugasan anggota di luar institusi, batas usia pensiun, dan penguatan Kompolnas. Pembahasannya menerima lebih dari 120 masukan tertulis dari berbagai kalangan.
26. Merangkul ulama dan pesantren. Ngaji Kebangsaan bersama Gus Baha pada 26 September 2026 dihadiri 700 peserta langsung, termasuk 300 santri, dan 41.449 peserta virtual. Peserta virtual datang dari 36 Polda dan 517 Polres.

Beberapa klaim belum layak dimasukkan sebagai keberhasilan akhir. Angka penindakan berasal dari laporan Polri sendiri. Jumlah kasus yang naik menunjukkan kerja penegakan hukum, tetapi dampaknya terhadap turunnya peredaran narkoba dan judi online harus diuji lewat data independen. Buruh yang “kembali bekerja” melalui desk perlu dilihat lagi dari sisi kelayakan upah dan kepastian kerjanya. Program jagung dan dapur MBG Polri baru dapat disebut berhasil bila produksi terealisasi, petani sejahtera, dan makanan aman. Karena itu pengamat pertanian mempertanyakan apakah tugas tambahan ini tepat dibebankan pada jajaran kepolisian dari polda hingga polsek.

Kepercayaan publik juga masih diiringi catatan. Responden survei masih menemukan pelanggaran oknum berupa arogansi (23,0 persen) dan pungutan liar (19,5 persen). Kasus terbaru datang dari Makassar: seorang pemuda berusia 19 tahun tewas diduga akibat luka tembak saat polisi membubarkan tawuran pada 27 September 2026. Lima anggota Polsek Tallo diperiksa Propam, dan hingga kini belum ada kesimpulan asal lukanya. Tuntutan reformasi menguat setelah gelombang demonstrasi Agustus–September 2025 yang berujung korban jiwa. UU Polri yang baru pun tidak lepas dari kritik: koalisi masyarakat sipil yang dipimpin YLBHI menolak pengesahannya, dan sebagian pengamat menilai rekomendasi komisi masih bergerak di jalur reformasi moderat, lebih menata tata kelola ketimbang struktur kekuasaan.

Kapolri patut memperoleh pengakuan atas capaian yang terbukti, dengan ukuran keberhasilan yang tetap bertumpu pada manfaat nyata dan berkelanjutan bagi rakyat.(Red/Bar.S)

Bongkar Kejanggalan Sengketa Tanah Subak Kerdung: Pemegang Pipil Asli Jadi Tersangka, Ada Apa?

DENPASAR — Kuasa hukum A.A. Ngurah Darmawan selaku pihak terlapor dari Puri Ukir, Irjen Pol. Drs. I Wayan Sukawinaya, M.Si., menyoroti sejumlah kejanggalan dalam perkara sengketa tanah yang berlokasi di Subak Kerdung, kawasan Jalan Pulau Moyo, Pedungan, Denpasar, Bali.

Hal tersebut disampaikan Sukawinaya saat memberikan keterangan pada Kamis (24/9/2026) di Denpasar. Ia mempertanyakan proses hukum yang menempatkan A.A. Ngurah Darmawan sebagai pihak terlapor dalam perkara yang berkaitan dengan dugaan pemalsuan surat atau sporadik.

Tanah yang menjadi objek sengketa tersebut disebut memiliki luas sekitar 7.000 meter persegi. Namun, menurut kuasa hukum Puri Ukir, terdapat perbedaan data mengenai luas tanah antara dokumen yang digunakan pihak pelapor dengan dokumen yang dimiliki pihak Puri Ukir.

Perbedaan Luas dan Dokumen Kepemilikan

Menurut kuasa hukum Puri Ukir, pihak pelapor yang disebut berasal dari Puri Kaleran mengklaim objek tanah seluas 4.764 meter persegi di kawasan Subak Kerdung, Jalan Pulau Moyo.

Klaim tersebut, menurut Sukawinaya, antara lain didasarkan pada Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) dengan Nomor Objek Pajak (NOP) 51.71.010.002.012.0118.0, yang mencantumkan luas 4.764 meter persegi.

Sementara itu, pihak Puri Ukir menyatakan bahwa objek tanah yang disengketakan memiliki luas sekitar 7.000 meter persegi atau 0,680 hektare.

Pihak Puri Ukir mengaku memiliki sejumlah dokumen yang dijadikan dasar untuk mendukung keterangannya, antara lain Pipil Asli atau Keterangan Tanah Nomor 456/Dps/1979, serta Informasi Data Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang disebut mencatat luas tanah sebesar 7.000 meter persegi.

Perbedaan luas dan dasar dokumen tersebut menjadi salah satu hal yang dipertanyakan kuasa hukum dalam perkara yang sedang berjalan.

Kuasa Hukum Soroti Bukti di Persidangan

Sukawinaya juga menyampaikan bahwa dalam beberapa kali persidangan, pihak A.A. Ngurah Darmawan dapat menunjukkan dokumen-dokumen yang menurut mereka berkaitan dengan riwayat dan penguasaan tanah yang disengketakan.

Sebaliknya, kuasa hukum mengklaim pihak pelapor belum dapat menunjukkan Pipil Asli yang menurut mereka menjadi dasar pengakuan hak atas objek tanah tersebut di hadapan persidangan.

Atas kondisi tersebut, Sukawinaya mempertanyakan dasar penetapan status hukum terhadap A.A. Ngurah Darmawan selaku pihak dari Puri Ukir yang mengaku memiliki dokumen tanah asli.

Ia menilai terdapat dugaan persoalan hukum dalam proses tersebut dan meminta agar seluruh dokumen kepemilikan diperiksa secara objektif oleh aparat penegak hukum.

“Pihak kami akan berjuang dan mengungkap secara tuntas rantai yang diduga sebagai praktik mafia tanah di Bali, agar tindakan seperti ini tidak memakan korban dan menyebabkan kerugian pada pihak lain di kemudian hari,” ujar Sukawinaya.

Minta Proses Hukum Berbasis Bukti

Kuasa hukum Puri Ukir menegaskan bahwa pihaknya tidak mempersoalkan proses hukum sepanjang dilakukan berdasarkan bukti dan prosedur yang berlaku.

Menurut Sukawinaya, keberadaan Pipil Asli, data pembayaran PBB, serta dokumen pertanahan lainnya perlu diverifikasi dan dibandingkan dengan dokumen yang digunakan oleh pihak pelapor.

Ia juga meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap asal-usul dokumen, luas objek tanah, riwayat pembayaran pajak, serta dasar penerbitan dokumen yang digunakan masing-masing pihak.

“Yang kami minta adalah proses yang transparan dan berdasarkan bukti. Semua dokumen harus diuji dan diverifikasi sehingga persoalan ini dapat diketahui secara terang dan tidak menimbulkan korban baru,” katanya.

Sementara itu, A.A. Ngurah Darmawan, selaku pihak terlapor dari Puri Ukir, juga menjadi pihak yang dipersoalkan status hukumnya dalam perkara tersebut.

Perkara ini masih merupakan sengketa hukum antara para pihak. Berbagai klaim mengenai kepemilikan, keabsahan dokumen, maupun dugaan pelanggaran hukum masih perlu dibuktikan melalui proses hukum dan verifikasi dokumen oleh lembaga yang berwenang.

(red)

Jadi Pemateri Forum MBG 3T Kemendagri, Rifqi Maulana Tekankan Pentingnya Komunikasi Publik

JAKARTA — Ketua DPN Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Bidang Komunikasi Digital, Rifqi Maulana, S.H., menekankan pentingnya strategi komunikasi publik dalam mempercepat implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Hal itu disampaikan Rifqi saat menjadi pemateri dalam Forum Diskusi Aktual bertema “Strategi Percepatan Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T)” yang diselenggarakan Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri di Horison Ultima, Menteng, Jakarta, September 2026.

Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, pakar, praktisi, dan akademisi tersebut, Rifqi menyoroti bahwa keberhasilan MBG di wilayah 3T tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan dan distribusi, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah membangun pemahaman dan partisipasi masyarakat.

Menurut Rifqi, MBG perlu dikomunikasikan sebagai kebijakan yang memiliki dampak lebih luas terhadap kesehatan, pendidikan, kualitas sumber daya manusia, dan masa depan anak-anak Indonesia.

“MBG bukan sekadar makanan gratis. MBG adalah investasi untuk kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak-anak Indonesia,” ujar Rifqi.

Ia mengatakan karakteristik wilayah 3T membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda. Keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, akses internet, serta keragaman sosial masyarakat membuat komunikasi program tidak dapat sepenuhnya mengandalkan media sosial maupun kanal digital.

Karena itu, Rifqi mendorong pemerintah memperkuat komunikasi berbasis masyarakat dengan melibatkan tokoh yang memiliki kedekatan dan kepercayaan di tingkat lokal.

“Pendekatan pertama harus dilakukan kepada tokoh masyarakat, kepala desa, ustaz, ketua adat, kepala sekolah, Forkopimda, pemerintah desa, serta orang-orang yang dituakan dan dipercaya masyarakat,” katanya.

Menurut Rifqi, tokoh-tokoh tersebut perlu mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai tujuan, manfaat, mekanisme, serta tata kelola MBG. Setelah itu, mereka dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Ia menilai penyampaian informasi juga harus menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Masyarakat perlu mengetahui bahwa MBG berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, pengurangan masalah kekurangan gizi dan stunting, serta dukungan terhadap kesehatan dan proses belajar peserta didik.

Selain aspek kesehatan dan pendidikan, Rifqi menilai MBG juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat apabila rantai pasok pangan melibatkan petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM lokal.

“Ketika masyarakat memahami manfaat program dan melihat adanya keterlibatan ekonomi lokal, maka dukungan terhadap pelaksanaan MBG dapat tumbuh dari masyarakat sendiri,” ujarnya.

Tiga Tahap Komunikasi

Rifqi menawarkan tiga tahapan komunikasi yang dapat diperkuat dalam implementasi MBG di wilayah 3T.

Pertama, membangun pemahaman tokoh masyarakat. Kedua, membuka ruang dialog dengan masyarakat. Ketiga, memastikan masyarakat dapat terlibat dalam pengawasan implementasi program.

“Kalau dua proses awal sudah berjalan dan sudah ada kesepahaman, tahap implementasi akan lebih mudah. Masyarakat memahami pentingnya MBG sekaligus mengetahui bagaimana ikut mengawal pelaksanaannya,” jelasnya.

Menurut Rifqi, dialog terbuka penting karena masyarakat membutuhkan ruang untuk bertanya, menyampaikan kekhawatiran, dan memperoleh penjelasan secara langsung.

Pendekatan tersebut sekaligus dapat menjadi langkah untuk mencegah berkembangnya informasi yang tidak tepat mengenai pelaksanaan MBG.

“Tidak semua masyarakat di daerah 3T aktif menggunakan media sosial. Karena itu, jangan sampai informasi hanya berhenti di kanal digital. Kita harus memastikan informasi benar-benar sampai kepada masyarakat,” katanya.

Perkuat Kanal Pengaduan

Sebagai Ketua DPN PERMAHI Bidang Komunikasi Digital, Rifqi juga menyoroti pentingnya membangun sistem komunikasi dua arah dalam pelaksanaan MBG.

Menurut dia, pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga perlu menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memberikan laporan, kritik, dan masukan.

Kanal pengaduan, kata Rifqi, tidak harus selalu berbentuk aplikasi atau media sosial. Di daerah dengan keterbatasan internet, kantor desa, sekolah, puskesmas, posko pengaduan, dan ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai titik penyampaian informasi maupun pengaduan.

“Pemahaman itu penting. Setelah masyarakat memahami program, mereka juga harus tahu bagaimana cara menggunakan kanal pengaduan, bagaimana melapor, dan bagaimana memberikan umpan balik,” ujarnya.

Sementara di wilayah yang memiliki akses internet, kanal digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat transparansi dan pengawasan.

Rifqi mengusulkan tiga aspek utama dalam penguatan partisipasi masyarakat, yakni transparansi, pengawasan, dan umpan balik.

Pada aspek transparansi, informasi mengenai menu, jumlah penerima manfaat, jadwal distribusi, serta informasi anggaran dapat disampaikan melalui papan informasi desa dan sekolah, forum warga, maupun kanal digital yang tersedia.

Pada aspek pengawasan, masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui guru, kepala desa, kader, tokoh masyarakat, maupun posko pengaduan apabila terjadi keterlambatan distribusi, persoalan kualitas makanan, atau terdapat penerima manfaat yang belum memperoleh MBG.

Sementara pada aspek umpan balik, setiap keluhan dan saran masyarakat perlu dicatat, diteruskan kepada pengelola program, dan ditindaklanjuti melalui evaluasi secara berkala.

“Di daerah 3T, transparansi dan partisipasi tidak harus bergantung pada internet. Yang penting ada informasi yang terbuka, saluran pengaduan yang mudah dijangkau, dan tindak lanjut yang nyata,” kata Rifqi.

Ia juga mendorong pemerintah memasang informasi mengenai kanal pengaduan di lokasi yang mudah terlihat masyarakat, seperti kantor desa, sekolah, pasar, fasilitas kesehatan, dan ruang publik.

Selain itu, forum pertemuan warga secara berkala dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG sekaligus menghimpun keluhan dan masukan dari masyarakat.

Rifqi menegaskan, percepatan MBG di wilayah 3T membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, kepala desa, sekolah, tenaga kesehatan, serta kelompok penerima manfaat.

“Kalau masyarakat sudah memahami program, mengetahui manfaatnya, dan mengetahui bagaimana cara mengawasi serta menyampaikan pengaduan, maka masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari pengawalan keberhasilan program MBG,” tuturnya.

Forum Strategis

Rifqi turut mengapresiasi Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan dan Pelayanan Publik, Dr. TR. Fahsul Falah, S.Sos., M.S., yang telah menyelenggarakan forum tersebut sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai percepatan implementasi MBG di wilayah 3T.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah pakar, praktisi, dan akademisi dari berbagai lembaga, di antaranya Lindsey Afsari Puteri, S.T., M.I.Kom., Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden; Drs. Samsul Widodo, M.A., Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal; Rufriyanto Maulana Yusuf, SIK., MM., Sekretaris Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional; Dr. Bakri Siddiq, S.E., M.Si., Asisten Deputi Infrastruktur Pemerintahan BNPP; Dr. Paudah, M.Si., Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri; Sastrodirjo, Analis Keuangan Pusat dan Daerah Ditjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan; Gatot Tri Laksono, S.Pd., M.Si., pakar pemerintahan dari Lembaga Kajian Rumah Kreasi Indonesia Hebat; Ferry, CEO VRITIMES; serta Tias Ade Putra, Chief Executive Officer PT Agriva Teknologi Nusantara (DESAPEDIA).

Kehadiran Rifqi sebagai Ketua DPN PERMAHI Bidang Komunikasi Digital dalam forum tersebut memperkuat perhatian PERMAHI terhadap isu komunikasi publik, partisipasi masyarakat, dan pengawasan kebijakan publik, khususnya dalam memastikan program strategis pemerintah dapat dipahami dan diterima masyarakat hingga ke wilayah 3T.(Red)

DPRD Sumedang Terima Aspirasi LSM LIDIK dan Koalisi 99, Sidik Japar: Akan Ditindaklanjuti Sesuai Koridor Hukum

Sumedang— Ketua DPRD Kabupaten Sumedang Sidik Japar menegaskan bahwa pihaknya telah menerima dan mencatat seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat dalam aksi LSM LIDIK DPW Jawa Barat dan Koalisi 99 Peduli Sumedang di halaman Gedung DPRD Kabupaten Sumedang, Senin (21/9/2026). DPRD selanjutnya akan menindaklanjuti aspirasi tersebut sesuai kewenangan lembaga dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Baru selesai menerima demo dari LSM LIDIK DPW Jabar dan Koalisi 99, mewakili masyarakat,” ujar Sidik Japar melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Senin (21/9/2026).

Sidik mengatakan, pimpinan DPRD Kabupaten Sumedang mengapresiasi penyampaian aspirasi yang berlangsung secara damai dan tertib. Menurutnya, DPRD berkewajiban menerima aspirasi masyarakat dan memastikan setiap persoalan yang menjadi perhatian publik ditangani melalui mekanisme kelembagaan yang sesuai.

Atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Sumedang, Sidik menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan massa telah diterima dan akan menjadi bahan tindak lanjut DPRD.

“Kami apresiasi kepada saudara-saudara kami yang hari ini melaksanakan aksi damai. Aspirasi yang disampaikan sudah kami catat dan akan kami tindak lanjuti sesuai kewenangan DPRD,” katanya.

Namun, Sidik menegaskan DPRD harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Setiap keputusan maupun tindakan kelembagaan, menurutnya, harus memiliki dasar hukum dan tidak boleh hanya didasarkan pada informasi yang berkembang di media sosial.

“Yang kami tunggu adalah surat resmi hasil investigasi. Kami tidak mau hanya mendengar dari media sosial. Kami ingin semuanya tertulis dan sesuai fakta,” tegas Sidik.

Ia menjelaskan, DPRD Kab.Sumedang masih menunggu surat resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait hasil tim investigasi yang menangani persoalan yang menjadi perhatian masyarakat tersebut.

Menurutnya, dokumen resmi diperlukan agar DPRD memiliki dasar yang jelas dalam menentukan langkah selanjutnya, sekaligus memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami tidak mau terburu-buru yang akhirnya langkah kami tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tetapi aspirasi Bapak-Ibu sekalian kami terima dan siap kami tindak lanjuti sesuai koridor hukum yang kami miliki,” ujarnya.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, Sidik menyampaikan bahwa pimpinan DPRD bersama pimpinan fraksi akan melakukan konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri dalam waktu dekat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme yang ditempuh DPRD sesuai dengan kewenangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, DPRD Kabupaten Sumedang akan menjadwalkan rapat pimpinan untuk membahas tindak lanjut aspirasi masyarakat, termasuk kemungkinan pelaksanaan rapat dengar pendapat (RDP) maupun mekanisme kelembagaan lainnya.

Aksi tersebut sebelumnya diikuti ratusan massa yang terdiri dari unsur LSM, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, penggiat media sosial, wartawan, aktivis, tokoh agama, ulama, santri hingga tokoh masyarakat.

Massa menyampaikan aspirasi terkait polemik yang berkembang di ruang publik dan menyeret nama Wakil Bupati Sumedang dengan mantan sekretaris pribadinya berinisial RY. Mereka meminta agar persoalan tersebut mendapatkan penjelasan secara terbuka serta ditangani melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Aksi dimotori Ketua DPP LSM LIDIK N. Mujianto bersama sejumlah tokoh dan elemen masyarakat, di antaranya Pembina Koalisi 99 Peduli Sumedang H. Ecek Karyana serta Ketua Garda Wali Songo Kiai HM. Rd. Abdurrozaq L. Muftiy.

Dalam penyampaian aspirasinya, N. Mujianto menegaskan bahwa aksi dilakukan secara damai dan bertujuan mendapatkan kejelasan atas persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kami datang ke sini untuk menyampaikan aspirasi. Kalau persoalan ini bisa diselesaikan oleh DPRD dan pemerintah, sebenarnya tidak perlu ada demo atau sorakan,” ujarnya.

Sementara itu, H. Ecek Karyana mengatakan masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi dan meminta kejelasan apabila terdapat persoalan yang menjadi perhatian publik.

“Hukum adalah panglima. Kalau ada persoalan, baik yang berkaitan dengan masyarakat maupun pemerintah, harus diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku,” katanya.

Ketua Garda Wali Songo Kiai HM. Rd. Abdurrozaq L. Muftiy juga meminta adanya keterbukaan informasi agar masyarakat tidak terus menerima informasi yang simpang siur.

“Yang kami inginkan adalah kejelasan. Kalau memang tidak terjadi, sampaikan bahwa tidak terjadi. Kalau ada persoalan, harus dijelaskan berdasarkan fakta dan proses hukum,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW LSM LIDIK Jawa Barat Oesep Sarwat menegaskan bahwa pihaknya tidak datang untuk menghakimi atau memberikan vonis kepada pihak tertentu.

“Kami datang bukan untuk menghakimi siapa-siapa dan bukan untuk menjustifikasi siapa-siapa. Kami datang untuk menuntut rasa keadilan masyarakat Kabupaten Sumedang,” katanya.

Oesep juga meminta agar apabila terdapat keberatan terhadap pemberitaan media, penyelesaiannya ditempuh melalui mekanisme hak jawab dan hak koreksi sesuai ketentuan yang berlaku. Ia menekankan pentingnya menjaga kebebasan pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.

Selain itu, Oesep meminta DPRD Kabupaten Sumedang menindaklanjuti aspirasi melalui rapat pimpinan, RDP maupun mekanisme kelembagaan lainnya.

Pihaknya juga menyampaikan bahwa apabila dalam waktu 14 hari tidak terdapat perkembangan yang disampaikan kepada publik, elemen masyarakat yang tergabung dalam aksi tersebut akan mempertimbangkan kembali langkah selanjutnya.

“Kami memberikan waktu 14 hari agar hasil tindak lanjut DPRD disampaikan kepada masyarakat secara terbuka,” ujarnya.

Sementara itu, terkait hasil pemeriksaan tim investigasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, massa mempertanyakan hasil dan dasar kesimpulan pemeriksaan yang sebelumnya disebut melibatkan Inspektorat Jawa Barat.

DPRD Kabupaten Sumedang pada prinsipnya menyatakan akan meminta dokumen resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta melakukan konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri. (Red/Bar.S)

Dilansir juga dari berbagai sumber/(Foto:istimewa/Dok.Google)

Booth Paspampres menampilkan koleksi seragam dan perlengkapan di TNI Fair 2026 di Monas
Warga Makin Membeludak di Malam Hari, Band TNI Ramaikan TNI Fair 2026 di Monas

Jakarta, 20 September 2026 — Suasana kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, semakin ramai pada Minggu malam (20/9/2026). Memasuki sekitar pukul 20.00 WIB, warga terlihat terus berdatangan dan memenuhi area TNI Fair 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI.

Keramaian tidak hanya terlihat di area pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista). Menjelang malam, perhatian pengunjung juga tertuju pada panggung hiburan yang menghadirkan penampilan musik dari lingkungan TNI.

Alunan musik membuat suasana Monas terasa semakin hidup. Warga dari berbagai usia tampak menikmati pertunjukan sambil berkeliling melihat berbagai pameran yang tersedia di kawasan acara.

Pameran TNI Jadi Ruang Interaksi dengan Masyarakat

TNI Fair 2026 berlangsung selama 19–20 September 2026 di kawasan Monas dan terbuka untuk masyarakat. Berbagai kegiatan dihadirkan, mulai dari pameran alutsista, teknologi pertahanan, atraksi prajurit, hingga hiburan musik.

Salah satu daya tarik acara adalah kesempatan bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat berbagai perlengkapan dan kegiatan yang biasanya tidak ditemui dalam keseharian.

Dari suasana di lokasi pada malam hari, kepadatan pengunjung terlihat semakin meningkat. Warga tidak hanya datang bersama teman, tetapi juga membawa keluarga untuk menikmati rangkaian kegiatan TNI Fair.

Dari Kostrad hingga Seragam Paspampres

Selain pertunjukan musik, pengunjung juga dapat menemukan berbagai stan yang menampilkan informasi mengenai satuan dan profesi di lingkungan TNI.

Salah satunya adalah area Kostrad yang tampil dengan desain gerbang bernuansa hijau dan menampilkan informasi mengenai kegiatan satuannya. Area tersebut menjadi salah satu titik yang menarik perhatian pengunjung untuk berfoto.

Di lokasi lainnya, terdapat pula pameran seragam Paspampres yang menampilkan beberapa model pakaian dinas dan perlengkapan. Kehadiran pameran seperti ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai atribut dan tradisi yang ada di lingkungan TNI.

Malam Penutup yang Dipenuhi Warga

Memasuki malam terakhir TNI Fair 2026, suasana di Monas semakin semarak. Warga memanfaatkan waktu hingga malam untuk menikmati hiburan sekaligus melihat berbagai pameran yang telah disiapkan.

TNI Fair 2026 sendiri menghadirkan pameran dari tiga matra TNI serta berbagai kegiatan pendukung, termasuk hiburan musik dan layanan untuk masyarakat.

Bagi pengunjung, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menikmati suasana Monas sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan, perlengkapan, dan kegiatan prajurit TNI.

Malam di Monas pun ditutup dengan suasana yang meriah. Di tengah padatnya pengunjung dan suara musik yang mengiringi acara, TNI Fair 2026 menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang mempertemukan prajurit dengan masyarakat dalam suasana yang lebih terbuka dan santai.

Harapan warga tentu agar TNI terus hadir secara profesional, dekat dengan masyarakat, serta mampu memberikan manfaat melalui kegiatan-kegiatan yang terbuka dan edukatif.

Ditulis dan disunting oleh: Andre Ramdani Permana

rezekirevi
Satu Dekade Mengabdi: Rangkuman Perjalanan Karier Kompol Rezeki Revi Respati

Lebih dari sepuluh tahun mengabdi di Kepolisian Republik Indonesia, Kompol Rezeki Revi Respati, S.H., S.I.K., M.Si., telah melewati berbagai penugasan yang membentuknya menjadi perwira dengan kompetensi lintas bidang. Perwira asal Aceh ini menutup satu babak penting dalam kariernya dengan menuntaskan Pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) Polri Dikreg ke-66 Tahun Anggaran 2026.

2010: Awal Pengabdian di Akademi Kepolisian

Perjalanan Kompol Respati sebagai anggota Polri dimulai pada tahun 2010, saat ia dinyatakan lulus dari Akademi Kepolisian sebagai bagian dari angkatan Dharma Ksatria. Dari titik inilah, satu demi satu penugasan dan jenjang pendidikan lanjutan mulai ia lalui.

2017: Terjun ke Dunia Penyidikan Bareskrim

Memasuki tahun 2017, Rezeki Revi Respati mulai bertugas sebagai Penyidik Subdirektorat 5 Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, sekaligus tergabung dalam Satuan Tugas Anti Illegal Mining yang berfokus menangani kejahatan pertambangan tanpa izin. Fase ini menjadi titik awal pengalamannya menangani kasus-kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi.

2020: Meraih Gelar Magister dengan Predikat Cumlaude

Di tengah kesibukan tugas sebagai penyidik, Kompol Respati tetap menyisihkan waktu untuk menuntaskan pendidikan pascasarjananya. Pada tahun 2020, ia berhasil menyelesaikan program magister Ilmu Kepolisian di Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif 3,9, mengangkat tesis mengenai relasi atasan-bawahan sebagai faktor pembentuk komitmen organisasi di lingkungan Bareskrim Polri.

2021–2022: Memimpin Unit Harta Benda dan Memberantas Mafia Tanah

Kariernya berlanjut ke Ditreskrimum Polda Metro Jaya, di mana ia menjabat Kepala Unit Harta Benda sekaligus tergabung dalam Satuan Tugas Anti Mafia Tanah Polri yang berhasil mengungkap sejumlah kasus mafia tanah di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Fase ini menunjukkan kemampuannya menangani kejahatan yang melibatkan aspek hukum properti dan pertanahan yang kerap rumit.

Mengawal Jakarta Pusat sebagai Wakasat Reskrim dan Kapolsek Gambir

Selanjutnya, Kompol Respati dipercaya menjabat Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat, memimpin penanganan berbagai kasus kejahatan di wilayah tersebut. Ia kemudian menjabat sebagai Kapolsek Metro Gambir, kawasan pusat pemerintahan nasional, dan turut mengamankan agenda-agenda strategis seperti Pemilihan Presiden 2024 serta pengamanan tamu VVIP dan tamu negara di kawasan Ring I Jakarta.

2026: Menuntaskan Sespimmen Dikreg 66

Babak terbaru dalam kariernya ditandai dengan kelulusan dari Pendidikan Sespimmen Dikreg ke-66 Tahun Anggaran 2026, jenjang pendidikan yang mempersiapkan perwira menengah Polri untuk tanggung jawab kepemimpinan yang lebih besar. Saat dinyatakan lulus seleksi dan terpilih mengikuti pendidikan tersebut, Kompol Respati menyampaikan rasa syukurnya atas proses seleksi yang berlangsung ketat dan kompetitif.

Ia mengungkapkan bahwa keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi inspirasi utamanya dalam bertugas, terutama dalam menjaga integritas, keberanian, dan konsistensi menegakkan kebenaran serta keadilan. Ia juga menekankan pentingnya transformasi Polri menuju institusi yang modern, profesional, dan humanis, melalui penerapan sistem meritokrasi yang objektif.

Jejak di Panggung Kenegaraan

Di sela berbagai penugasan tersebut, Kompol Respati juga pernah dipercaya menjadi Komandan Upacara pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, Jakarta Pusat. Upacara ini tercatat istimewa karena menjadi pelaksanaan pertama dalam 58 tahun terakhir di museum yang didedikasikan untuk mengenang Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani.

Penutup

Melihat rangkaian perjalanan dari tahun ke tahun, mulai dari Akademi Kepolisian pada 2010, gelar cumlaude di Universitas Indonesia pada 2020, berbagai penugasan strategis di bidang reserse dan pengamanan, hingga kelulusan dari Sespimmen Dikreg ke-66 pada 2026, terlihat jelas bahwa karier Kompol Rezeki Revi Respati dibangun secara bertahap dan konsisten. Satu dekade lebih pengabdiannya menjadi bukti nyata bahwa proses panjang dan kerja keras yang berkelanjutan mampu mengantarkan seorang perwira menuju jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi di tubuh Polri.